This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 13 April 2013

Muhasabah Diri



Muhasabah Diri

Duhai Allah … Duhai yang mendetakkan jantung ini
Duhai yang selalu memberikan makan kepada hamba-hambaMu ini
Duhai yang memberikan air yang sejuk di kala kami dahaga
Duhai yang mengaruniakan kantuk di kala kami lelah
Duhai yang selalu mengurus diri-diri kami di kala kami tertidur pulas
Hanya Engkaulah Yang Maha Agung
Ya Allah, betapapun kami menghianatiMu setiap waktu tapi tiada suatu saat pun terputus Engkau memberi nikmat kepada kami
Ya Allah jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala kebusukan kami
Penghapus bagi seluruh dosa-dosa kami, hari dimana Engkau singkapkan tabir dari hati kami, hari dimana Engkau gantikan segala kegelapan dengan cahaya di qolbu ini

Ya Allah, kami ingin merasakan indahnya hidup dekat denganMu
Kami ingin hari-hari yang tersisa ini menjadi hari-hari yang selalu akrab bersamaMu, kami lelah jauh dariMu ya Allah, kami tidak ingin terpuruk dan terhina karena tenggelam dalam kemaksiatan
Berikan kepada kami kemudahan, untuk mengenalMu Ya Allah
Berikan kepada kami jalan untuk bisa mendekat kepadaMu
Jadikan kami menjadi orang-orang yang selalu merasakan, kehangatan, kasih sayangMu
Ya Allah jadikan sujud kami menjadi sujud yang selalu nikmat KepadaMu
Jadikan shodaqoh kami menjadi jalan yang membuat kami akrab denganMu
Jadikan amal-amal kami sebagai amal-amal yang tulus hanya karenaMu

Ya Allah
Jangan biarkan kesibukkan dunia membutakan hati kami
Jangan biarkan hawa nafsu  membelenggu hati kami
Jangan biarkan syahwat membuat kami terjerumus dalam kemaksiatan
Jangan biarkan amarah membuat kami terhina dalam kedzoliman
Ya Allah, wahai yang Maha Mendengar, sayangilah kami Ya Allah
Berkahi sisa umur kami ini
Jadikan umur yang tersisa ini membawa maslahat bagi orang tua kami, bagi keluarga kami, bagi sebanyak-banyakNya umat Mu
Rabbanaa aatinaa Fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar

“Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan (pula) di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka”

Sepi Dalam Kerinduan



Sepi Dalam Kerinduan


            Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja. Aku juga tidak tahu kalau ini memang benar-benar nasibku. Benar, akhir-akhir ini aku sering menangis sendirian. Bahkan, aku sering menyalahkan kakakku. Mungkin, gara-gara orangtuaku yang sudah sibuk, kasih sayang kedua orangtuaku berkurang. Apalagi dengan masalah Mama-Papa dengan kak Dana. Aku sering merasa aku anak termalang dan tidak ada lagi orang-orang yang menyayangiku. Dulu, orang-orang yang kusayang juga menyayangiku. Tapi sekarang?
            Ku ambil album foto yang sudah lama tersimpan di laci kamarku. Ku pandangi foto di dalamnya, di situ ada aku, Mama, Papa, serta Kak Dana. Aku masih berumur 4 tahun sedangkan Kak Dana umur 6 tahun. Saat itu, aku merasa anak yang paling beruntung karena kasih sayang kedua orangtuaku selalu kurasakan.
            Air mataku jatuh membasahi pipi. Dulu saat-saat paling menyenangkan yang belum pernah kurasakan. Mama, Papa, dan Kak Dana selalu menyayangi aku. Aku yang selalu akur dengan kak Dana, tapi sekarang? Aku sering bertengkar dengannya dan jarang berbicara akrab dengannya.
            “Andai saja suasana seperti itu bisa kurasakan lagi.” bisikku lalu membelai wajah kedua orangtuaku yang tampak di foto. Aku simpan album itu di sebelah bantalku dan aku pun terlelap.

****

            Aku terbangun saat alrm berbunyi, tepat pukul 3 pagi. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil air wudhu untuk sholat Tahajud. Setelah sholat, aku pun melihat kedua orangtuaku yang masih tertidur pulas. Kemudian aku melanjutkan aktifitasku untuk belajar sebentar sambil menunggu waktu subuh.
            “Rina, Dana, ayo cepat bangun! Sudah jam 5 lewat tuh. Kalian belum sholat kan?” Teriak Papa dari luar kamar.
            Aku pun terbangun dari tidurku di meja belajar.
            “Oh tidak! ternyata aku tertidur lagi.” Kataku dalam hati. Aku pun segera bangun dan pergi mandi.
            Sementara itu Papa, Mama, dan Kak Dana sudah berada di meja makan untuk sarapan.
            “Dana, kamu tuh sebentar lagi mau ujian, kurangi main futsalnya, kan bisa nanti-nanti lagi!” Ucap mama pada kak Dana.
            “Iya kak, kamu jangan keseringan main lah.. Kamu kan sudah besar. Jadi tau kan mana yang terbaik buat kamu?” Kata Papa melanjutkan percakapan.
            “Sedang apa kamu berdiri di situ Rina?” tanya Papa padaku yang sedari tadi hanya berdiri mendengar percakapan mereka. “Ayo sarapan!” Aku menuruti perintah Papa lalu mengambil selembar roti tawar.
            “Kamu ini gimana sih? Kalau bangun jam segini sih, kamu bisa terlambat ke sekolah,” ujar Mama kepadaku.
            “Iya. Kamu kan sudah besar. Sudah umur 14 tahun, Kamu tuh sudah tau sekolahmu jauh, seharusnya kamu belajar mandiri, ga perlu dibangunin lagi.” Papa menimpali.
            Aduh, kok pagi-pagi begini sudah ceramah? Padahal tadi aku kan udah bangun pagi. Aku ingin bilang seperti itu. Tapi, berhubung mood Papa, Mama lagi jelek, aku hanya menyimpannya di dalam hati dan aku segera berangkat ke sekolah.

****

            “Hey Rina!!” Teriak Syifa, mengagetkan sambil menepuk punggungku.
            “Astgahfirullah.. kamu tuh ngagetin aja sih!” kataku sedikit kesal.
            “Haha.. maaf, lagian kamunya melamun mulu sih. Mikirin siapa siihh? Kak Fatih yaa? Hehe..” Ujar Syifa, menggoda.
            “Apaa sih Syifa? Siapa yang melamun? Aku ga melamun tuh!” Kataku sambil menjulurkan lidah, bercanda.
            “Haha.. yasudah. Ayo makan, udah istirahat nih. Kamu bawa makan ga? Makan bareng sama aku yuk!” ajak Syifa.
            “Assiikk, Syifa bawa makan nih. Enak ya setiap hari dibawain makan, ibunya baik banget.” Ujar Fandy yang tiba-tiba datang.
            “Haha. Iya. Ibu aku kan sayang sama aku.” Jawab Syifa.
            “Huhu. Dulu aku suka dibawain makan, tapi sekarang ngga. Ibu aku jahat dong ya? Haha..” Canda Fandy
            Aku hanya terdiam mendengar percakapan Syifa dan Fandy, dan membuat perasaanku sedikit sedih. Ya, ibu Syifa memang baik, ibu Syifa memang sayang pada Syifa, penuh perhatian. Dulu aku juga suka kok dibawain makanan seperti Syifa, tapi tidak untuk sekarang. Memang mamaku tidak perhatian seperti dulu, sekarang mama sibuk, tapi apa mamaku jahat seperti kata Fandy? Entahlah, aku bingung memikiran itu.
            Seperti biasa, saat pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk duduk-duduk di serambi depan kelas walau sekedar baca buku atau melihat aktifitas murid-murid lain yang sedang bermain basket. Aku kadang melamun, memikirkan, merenungkan kejadian-kejadian yang kualami. Hingga jam 4 sore, aku masih betah duduk di situ. Biasanya ketiga sahabatku, Syifa, Zia, dan Pipit juga suka menemanku di sini. Tapi, kali ini mereka tidak datang.
            “Apakah…” aku berbisik. “Apakah  aku selalu sendirian?”
            “Tidak.” Sebuah suara yang kukenal mengagetkanku. Di seberang lapangan, ada Syifa, Zia, dan Pipit. Syifalah yang tadi bersuara.
            “Kamu nggak sendirian, Rina. Masih ada kita, kok! Bukannya persahabatan itu susah-senang dibagi bersama?” ujar Syifa lagi, tersenyum.
            “Rina, cerita dong sama kita apa yang kamu rasakan.” kata Pipit. Ketiga sahabatku berjalan menghampiriku. Aku menghapus air mataku lalu tersenyum kepada mereka.
            “Thanks ya, teman-teman,” ujarku. Diantara ketiga sahabatku, Syifalah yang paling pengertian dan paling baik. Aku selalu curhat ke dia, dan dia tidak pernah menceritakannya lagi kepada orang lain.
****

            Sesampainya di rumah, belum terlihat kedua orangtuaku yang pulang, kak Dana pun belum pulang. Seakan kami tidak mempunyai waktu luang untuk bersama. Aku tau, mereka pasti lelah. Tapi sepi, sendiri itu yang kurasakan sekarang. Aku segera pergi ke kamar dan langsung membenamkan wajahku ke bantal. Aku kembali menangis. Ku ambil kembali album foto itu, aku rindu saat-saat itu.
            Aku Pergi ke rumah Syifa, aku tak kuat menahan ini. Orangtua Syifa juga senang kalau aku main di rumahnya sambil menemani Syifa karena ia tidak mempunyai kakak.
            “Kenapa kamu kabur dari rumah?” tanya Syifa, sedikit jengkel karena aku keluar rumah tanpa bilang-bilang.
            “Syifa, kamu nggak ngerti perasaanku, aku ga kabur ko.” jawabku lirih. Karena sering menangis, suaraku menjadi serak.
            “Iya, aku ngerti. Tapi nggak harus kabur kan?” Syifa menepuk bahuku. Ternyata aku nggak salah memilih teman. Syifa tampak dewasa dan pengertian. Syifa memelukku dan aku menangis.
            “Aku nggak tau harus gimana? Jujur aja, aku suka iri denganmu.” Ujarku menahan tangis.
            “Kamu beruntung Syif, kedua orangtuamu begitu perhatian denganmu, bahkan perhatian kepadaku. Sewaktu kita naik motor lalu kehujanan sepulang sekolah, ibumu menyambutku seperti anaknya sendiri, dibuatkan teh hangat, diambilkan pakaian untuk ganti karena pakaianku basah kuyup. Sedangkan orangtuaku?” lanjutku lirih.
            “Rina, orangtuamu juga pasti sayang sama kamu kok. Kamu jangan ngomong kaya gitu.” Kata Syifa menenangkanku.
            “Iya, aku tau. Mereka sayang padaku, tapi apa yang terjadi saat itu? Aku meminta jemput papaku, tapi papa sibuk, kak Dana yang akhirnya menjemputku kan? Setelah sampai di rumah, apa mereka mengkhawatirkanku? Hanya menyuruhku untuk segera ganti pakaian. Sudah, tak ada kata-kata lain padaku. Padahal aku merasa sangat kedinginan dan aku merasa tak enak badan.”
            “Hei, aku baru sadar,” kata Syifa. “Kau bukan Rina yang seperti dulu. Mana ya, Rina yang tegar, yang nggak gampang nyerah, dan selalu happy?” Syifa lalu tersenyum.
            "Nggak Syif, itu bukan aku saat ini.” ujarku menatap kedua mata Syifa.
            "Kata siapa?” tanya Syifa, lalu tersenyum. “Hei, kau masih beruntung dibandingkan yang lain. Lihat sekelilingmu! Kamu masih punya aku, Zia, dan Pipit. Kak Fatih juga ada buat kamu, dia menyayangimu. Kami semua menyayangimu, Rin!”
            “Hmm.. Iya Syif, aku sadar. Termakasih banyak ya, kamu, Zia, juga Pipit selalu ada buat aku, kalian sahabat terbaikku. Ya, kak Fatih juga sudah ku anggap kakakku sendiri, dia yang selalu memberiku semangat. Aku sering merasa sepi, padahal seharusnya dengan adanya kalian pun itu sudah cukup membuatku bahagia, . tapi kadang aku tidak menyadari hal itu.” Ucapku.
            “Iya, kami akan ada buat kamu kok. Sekarang hapus air matamu,” kata Syifa lalu mengambil selembar kertas dan pulpen. “Tulislah hal-hal yang ingin kamu ungkapkan kepada kedua orangtuamu.”
            Aku menatap Syifa ragu. Syifa pasti bercanda. Tapi, setelah aku menatap kedua matanya yang tampaknya serius, aku menerima usul Syifa. Perlahan-lahan, kuungkap semua yang ingin kukatakan kepada Mama dan Papa. Syifa memperhatikanku sambil tersenyum. Dia memang benar-benar baik.
****
            Aku kembali ke rumah. Kali ini dengan sebuah tugas. Syifa mengusulkan agar aku memberikan tulisan yang kutulis kepada Mama dan Papa. Aku berhasil memberikannya kepada Mama dan Papa.
            “Rina.” ujar Mama, membuka pintu kamarku perlahan. Papa dan Mama masuk dan menghampiriku.
            “Nadya,” ujar Mama lagi lalu mengelus kepalaku. “Mama dan Papa minta maaf. Kami sadar kalau selama ini kami kurang memperhatikanmu.”
            “Kami terlalu sibuk dan jarang mempunyai waktu untuk kamu dan Kak Dana,” ujar Papa menimpali. “Kamu mau kan memaafkan Papa dan Mama?”
            Aku mengangguk dan aku memeluk mereka. Aku tak tahan menahan tangis dipelukan mereka. Pelukan hangat yang telah lama aku rindukan selama ini.
            “Terimakasih Mama, Papa.” Kataku. Lalu  tersenyum kepada kedua orangtua yang kucinta. Mama dan Papa pun membalas dengan senyuman manis penuh kasih.
           
-ZR-

Jilbab Adalah Keindahan



“jilbab adalah keindahan. Meskipun dia menutupi keindahan apa yang ada di dalamnya, tetapi sebenarnya jilbab lebih indah dari segalanya..”
Makna jilbab bagi setiap kaum hawa pasti memiliki definisi masing-masing. Pun definisi tersebut berangkat dari kadar pemahaman masing-masing pula. Telah jelas dan gamblang dijelaskan di dalam Al-Qur’an, segala perintah dan penjelasan mengenai kewajiban berhijab bagi setiap hawa. Coba tengok saja QS. Al-Ahzab : 59,satu ayat yang mewakili sekian dari perintah Allah untuk berhijab.Ketika seseorang mengazzamkan dirinya untuk berjilbab, saya yakin ia sudah mulai memupuk rasa cinta, taat, dan semangat nya untuk lebih mendekatkan dirinya ke hal-hal yang bersifat transendental (IIlahiyah).Namun ternyata tidak sedikit pula yang berargumen ini itu untuk menunda kewajiban yang satu ini.
Ada saja yang membuat alasan yang seakan-akan menjadi pembenaran atas suatu kesalahan,.klasik, sering kita dengar, “hmm,yang penting hatinya dijilbabi dulu saja”..Lalu,
“Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surgaNya tanpa jilbab menutup auratmu?”
Menampar memang, satu kalimat yang saya temukan di pojok tulisan. Dan memang seperti itu konsekuensi jika hanya menginginkan menjilbabi hati tanpa disertai menjilbabi diri.
Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.
Lalu argumen lain seakan tak mau kalah, “nanti takut susah nyari kerja,bla bla bla..”
hmm,,bukankah sudah ada yang mengatur hidup, mati, dan rezeki kita?? masihkah kau ragukan kekuasaan Allah, sedangkan Dia telah begitu banyak memberikan nikmatnya?
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kan kau dustakan?
Dan mungkin realita lain, banyak terjadi. Berjilbab memang, namun sudah tepatkah?
Dua minggu di luar zona nyaman (kampus) ternyata begitu banyak yang saya temukan. Banyak sekali bertaburan jilbab-jilbab dengan trend baru dengan nama dan istilah yang menggelitik.
Allah memerintahkan hambanya untuk menutup auratnya bukan hanya sekedar menutup, tetapi benar-benar sesuai ketentuanNya.Mau bukti ? silakan selami QS. An-Nur :31..Telah sangat jelas diuraikan kriteria-kriteria jilbab yang semestinya.
Karena kita adalah para cendekiawan, sudah sepatutnya apa yang kita lakukan bukan semata-mata karena trend semata apalagi hanya sekedar ikut-ikutan. Tetapi benar-benar resapi makna dan esensi dari berjilbab itu sendiri.
Jadi, apa lagi yang menghalangimu untuk berjilbab, ukhti? sedangkan ini bukan lagi pilihan tetapi beralaskan selimut kewajiban.

‘A.S’

I am not Alone




Adalah bukan hal yang menyenangkan ketika harus hidup berpisah jauh dari keluarga. Kuliah seringkali menjadi salah satu penyebabnya. Senang, alhamdulillah, dreams come true nih. Sedih, duh, harus berpisah dengan orang-orang yang disayangi. Penuh harapan, semoga, ini adalah pilihan yang terbaik. Agak cemas juga, di tempat yang baru nanti bisa senyaman dengan yang sekarang tidak ya?
Laa takhof wa laa tahzan, jangan takut dan jangan bersedih hati. Di sinilah indahnya Islam. Dalam QS Al Hujuraat ayat 10, Allah berfirman,Innamal mukminunal ikhwah, sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Artinya, di manapun kita berada, walaupun jauh dari sanak keluarga, namun, ketika kita bersama dengan orang-orang yang beriman, pada hakikatnya kita tengah berkumpul dengan saudara kita pula.
Don’t worry, be happy. Berada di tempat yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, dengan lingkungan dan kebiasaan yang baru, memang bisa menimbulkan stres kalau tidak siap. Namun, berada di tempat yang baru, adalah juga berarti kesempatan untuk mendapat teman baru, bertambah sahabat dan memperbanyak saudara.
Imam Ghazali mengatakan bahwa persaudaraan antara orang beriman semata-mata karena iman adalah persaudaraan yang kukuh. Maka berbahagialah mereka yang menjalin persaudaraan karena ikatan iman, dengan orang-orang shaleh di sekitarnya, di rumah, kontrakan, kos, kampus, fakultas, organisasi, paguyuban, di mana saja. Apalagi di lembaga dakwah kampus, tempat berkumpulnya orang-orang shaleh yang satu fikrah, satu visi dan misi, satu tujuan, yang saling beramal jama’i dalam dakwah.
Persaudaraan di antara dua orang, kata Imam Ghazali, akan sempurna hanya apabila keduanya berteman untuk satu tujuan, sehingga mereka seperti satu jiwa. Hal ini akan mengharuskan mereka berdua untuk saling berpartisipasi dalam keadaan senang dan susah. Sebesar persaudaraan ini, sebesar pula seseorang akan merasakan nikmatnya dakwah menuju Allah dan nikmat bergabung dalam barisan Islam.

Nikmat saling menolong, saling memberi, saling berkunjung, akan mendatangkan nikmat yang lain pula, yaitu cinta Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Sesungguhnya Allah swt berfirman, ’Berhak atas cinta-Ku, (yaitu) orang-orang yang saling mengunjungi karena-Ku. Berhak atas cinta-Ku, (yaitu) orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Berhak atas cinta-Ku, (yaitu) orang-orang yang saling memberi karena-Ku. Dan berhak atas cinta-Ku, (yaitu) orang-orang yang saling menolong karena-Ku.” (HR. Ahmad dan Al Hakim)

So, let’s get it on. Ke manapun pergi, di manapun berada, yakinlah, you are not alone. Selama kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan senantiasa menjalin ukhuwah dengan orang-orang shaleh, maka di situ kita akan mendapatkan keluarga dalam ikatan persaudaraan yang kukuh, teman yang sebaik-baiknya.

”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa’: 69). \[]

Wallahu’alam bish showab