Sepi Dalam Kerinduan
Aku tidak tahu apakah ini hanya
perasaanku saja. Aku juga tidak tahu kalau ini memang benar-benar nasibku.
Benar, akhir-akhir ini aku sering menangis sendirian. Bahkan, aku sering
menyalahkan kakakku. Mungkin, gara-gara orangtuaku yang sudah sibuk, kasih
sayang kedua orangtuaku berkurang. Apalagi dengan masalah Mama-Papa dengan kak
Dana. Aku sering merasa aku anak termalang dan tidak ada lagi orang-orang yang
menyayangiku. Dulu, orang-orang yang kusayang juga menyayangiku. Tapi sekarang?
Ku ambil album foto yang sudah lama
tersimpan di laci kamarku. Ku pandangi foto di dalamnya, di situ ada aku, Mama,
Papa, serta Kak Dana. Aku masih berumur 4 tahun sedangkan Kak Dana umur 6
tahun. Saat itu, aku merasa anak yang paling beruntung karena kasih sayang
kedua orangtuaku selalu kurasakan.
Air mataku jatuh membasahi pipi.
Dulu saat-saat paling menyenangkan yang belum pernah kurasakan. Mama, Papa, dan
Kak Dana selalu menyayangi aku. Aku yang selalu akur dengan kak Dana, tapi
sekarang? Aku sering bertengkar dengannya dan jarang berbicara akrab dengannya.
“Andai saja suasana seperti itu bisa
kurasakan lagi.” bisikku lalu membelai wajah kedua orangtuaku yang tampak di
foto. Aku simpan album itu di sebelah bantalku dan aku pun terlelap.
****
Aku terbangun saat alrm berbunyi,
tepat pukul 3 pagi. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil air
wudhu untuk sholat Tahajud. Setelah sholat, aku pun melihat kedua orangtuaku
yang masih tertidur pulas. Kemudian aku melanjutkan aktifitasku untuk belajar
sebentar sambil menunggu waktu subuh.
“Rina, Dana, ayo cepat bangun! Sudah
jam 5 lewat tuh. Kalian belum sholat kan?” Teriak Papa dari luar kamar.
Aku pun terbangun dari tidurku di
meja belajar.
“Oh tidak! ternyata aku tertidur
lagi.” Kataku dalam hati. Aku pun segera bangun dan pergi mandi.
Sementara itu Papa, Mama, dan Kak Dana
sudah berada di meja makan untuk sarapan.
“Dana, kamu tuh sebentar lagi mau
ujian, kurangi main futsalnya, kan bisa nanti-nanti lagi!” Ucap mama pada kak
Dana.
“Iya kak, kamu jangan keseringan
main lah.. Kamu kan sudah besar. Jadi tau kan mana yang terbaik buat kamu?”
Kata Papa melanjutkan percakapan.
“Sedang apa kamu berdiri di situ
Rina?” tanya Papa padaku yang sedari tadi hanya berdiri mendengar percakapan mereka.
“Ayo sarapan!” Aku menuruti perintah Papa lalu mengambil selembar roti tawar.
“Kamu ini gimana sih? Kalau bangun
jam segini sih, kamu bisa terlambat ke sekolah,” ujar Mama kepadaku.
“Iya. Kamu kan sudah besar. Sudah
umur 14 tahun, Kamu tuh sudah tau sekolahmu jauh, seharusnya kamu belajar
mandiri, ga perlu dibangunin lagi.” Papa menimpali.
Aduh, kok pagi-pagi begini sudah
ceramah? Padahal tadi aku kan udah bangun pagi. Aku ingin bilang seperti itu.
Tapi, berhubung mood Papa, Mama lagi jelek, aku hanya menyimpannya di dalam
hati dan aku segera berangkat ke sekolah.
****
“Hey Rina!!” Teriak Syifa,
mengagetkan sambil menepuk punggungku.
“Astgahfirullah.. kamu tuh ngagetin
aja sih!” kataku sedikit kesal.
“Haha.. maaf, lagian kamunya melamun
mulu sih. Mikirin siapa siihh? Kak Fatih yaa? Hehe..” Ujar Syifa, menggoda.
“Apaa sih Syifa? Siapa yang melamun?
Aku ga melamun tuh!” Kataku sambil menjulurkan lidah, bercanda.
“Haha.. yasudah. Ayo makan, udah
istirahat nih. Kamu bawa makan ga? Makan bareng sama aku yuk!” ajak Syifa.
“Assiikk, Syifa bawa makan nih. Enak
ya setiap hari dibawain makan, ibunya baik banget.” Ujar Fandy yang tiba-tiba
datang.
“Haha. Iya. Ibu aku kan sayang sama
aku.” Jawab Syifa.
“Huhu. Dulu aku suka dibawain makan,
tapi sekarang ngga. Ibu aku jahat dong ya? Haha..” Canda Fandy
Aku hanya terdiam mendengar
percakapan Syifa dan Fandy, dan membuat perasaanku sedikit sedih. Ya, ibu Syifa
memang baik, ibu Syifa memang sayang pada Syifa, penuh perhatian. Dulu aku juga
suka kok dibawain makanan seperti Syifa, tapi tidak untuk sekarang. Memang mamaku
tidak perhatian seperti dulu, sekarang mama sibuk, tapi apa mamaku jahat
seperti kata Fandy? Entahlah, aku bingung memikiran itu.
Seperti biasa, saat pulang sekolah
aku selalu menyempatkan waktu untuk duduk-duduk di serambi depan kelas walau
sekedar baca buku atau melihat aktifitas murid-murid lain yang sedang bermain
basket. Aku kadang melamun, memikirkan, merenungkan kejadian-kejadian yang
kualami. Hingga jam 4 sore, aku masih betah duduk di situ. Biasanya ketiga
sahabatku, Syifa, Zia, dan Pipit juga suka menemanku di sini. Tapi, kali ini
mereka tidak datang.
“Apakah…” aku berbisik. “Apakah aku selalu sendirian?”
“Tidak.” Sebuah suara yang kukenal
mengagetkanku. Di seberang lapangan, ada Syifa, Zia, dan Pipit. Syifalah yang
tadi bersuara.
“Kamu nggak sendirian, Rina. Masih
ada kita, kok! Bukannya persahabatan itu susah-senang dibagi bersama?” ujar Syifa
lagi, tersenyum.
“Rina, cerita dong sama kita apa
yang kamu rasakan.” kata Pipit. Ketiga sahabatku berjalan menghampiriku. Aku
menghapus air mataku lalu tersenyum kepada mereka.
“Thanks ya, teman-teman,” ujarku.
Diantara ketiga sahabatku, Syifalah yang paling pengertian dan paling baik. Aku
selalu curhat ke dia, dan dia tidak pernah menceritakannya lagi kepada orang
lain.
****
Sesampainya di rumah, belum terlihat
kedua orangtuaku yang pulang, kak Dana pun belum pulang. Seakan kami tidak
mempunyai waktu luang untuk bersama. Aku tau, mereka pasti lelah. Tapi sepi,
sendiri itu yang kurasakan sekarang. Aku segera pergi ke kamar dan langsung membenamkan wajahku ke bantal.
Aku kembali menangis. Ku ambil kembali album foto itu, aku rindu saat-saat itu.
Aku
Pergi ke rumah Syifa, aku tak kuat menahan ini. Orangtua Syifa juga senang
kalau aku main di rumahnya sambil menemani Syifa karena ia tidak mempunyai
kakak.
“Kenapa
kamu kabur dari rumah?” tanya Syifa, sedikit jengkel karena aku keluar rumah
tanpa bilang-bilang.
“Syifa,
kamu nggak ngerti perasaanku, aku ga kabur ko.” jawabku lirih. Karena sering
menangis, suaraku menjadi serak.
“Iya,
aku ngerti. Tapi nggak harus kabur kan?” Syifa menepuk bahuku. Ternyata aku
nggak salah memilih teman. Syifa tampak dewasa dan pengertian. Syifa memelukku
dan aku menangis.
“Aku nggak tau harus gimana? Jujur
aja, aku suka iri denganmu.” Ujarku menahan tangis.
“Kamu
beruntung Syif, kedua orangtuamu begitu perhatian denganmu, bahkan perhatian
kepadaku. Sewaktu kita naik motor lalu kehujanan sepulang sekolah, ibumu
menyambutku seperti anaknya sendiri, dibuatkan teh hangat, diambilkan pakaian
untuk ganti karena pakaianku basah kuyup. Sedangkan orangtuaku?” lanjutku
lirih.
“Rina,
orangtuamu juga pasti sayang sama kamu kok. Kamu jangan ngomong kaya gitu.”
Kata Syifa menenangkanku.
“Iya,
aku tau. Mereka sayang padaku, tapi apa yang terjadi saat itu? Aku meminta
jemput papaku, tapi papa sibuk, kak Dana yang akhirnya menjemputku kan? Setelah
sampai di rumah, apa mereka mengkhawatirkanku? Hanya menyuruhku untuk segera
ganti pakaian. Sudah, tak ada kata-kata lain padaku. Padahal aku merasa sangat
kedinginan dan aku merasa tak enak badan.”
“Hei,
aku baru sadar,” kata Syifa. “Kau bukan Rina yang seperti dulu. Mana ya, Rina
yang tegar, yang nggak gampang nyerah, dan selalu happy?” Syifa lalu tersenyum.
"Nggak
Syif, itu bukan aku saat ini.” ujarku menatap kedua mata Syifa.
"Kata
siapa?” tanya Syifa, lalu tersenyum. “Hei, kau masih beruntung dibandingkan
yang lain. Lihat sekelilingmu! Kamu masih punya aku, Zia, dan Pipit. Kak Fatih
juga ada buat kamu, dia menyayangimu. Kami semua menyayangimu, Rin!”
“Hmm..
Iya Syif, aku sadar. Termakasih banyak ya, kamu, Zia, juga Pipit selalu ada
buat aku, kalian sahabat terbaikku. Ya, kak Fatih juga sudah ku anggap kakakku
sendiri, dia yang selalu memberiku semangat. Aku sering merasa sepi, padahal
seharusnya dengan adanya kalian pun itu sudah cukup membuatku bahagia, . tapi
kadang aku tidak menyadari hal itu.” Ucapku.
“Iya,
kami akan ada buat kamu kok. Sekarang hapus air matamu,” kata Syifa lalu
mengambil selembar kertas dan pulpen. “Tulislah hal-hal yang ingin kamu
ungkapkan kepada kedua orangtuamu.”
Aku
menatap Syifa ragu. Syifa pasti bercanda. Tapi, setelah aku menatap kedua matanya
yang tampaknya serius, aku menerima usul Syifa. Perlahan-lahan, kuungkap semua
yang ingin kukatakan kepada Mama dan Papa. Syifa memperhatikanku sambil
tersenyum. Dia memang benar-benar baik.
****
Aku
kembali ke rumah. Kali ini dengan sebuah tugas. Syifa mengusulkan agar aku memberikan
tulisan yang kutulis kepada Mama dan Papa. Aku berhasil memberikannya kepada
Mama dan Papa.
“Rina.” ujar Mama, membuka
pintu kamarku perlahan. Papa dan Mama masuk dan menghampiriku.
“Nadya,”
ujar Mama lagi lalu mengelus kepalaku. “Mama dan Papa minta maaf. Kami sadar
kalau selama ini kami kurang memperhatikanmu.”
“Kami
terlalu sibuk dan jarang mempunyai waktu untuk kamu dan Kak Dana,” ujar Papa
menimpali. “Kamu mau kan memaafkan Papa dan Mama?”
Aku
mengangguk dan aku memeluk mereka. Aku tak tahan menahan tangis dipelukan
mereka. Pelukan hangat yang telah lama aku rindukan selama ini.
“Terimakasih
Mama, Papa.” Kataku. Lalu tersenyum
kepada kedua orangtua yang kucinta. Mama dan Papa pun membalas dengan senyuman
manis penuh kasih.
-ZR-